PRAKATA PENULIS
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamuaikum.wr.wb
Puja dan Puji kepada Dzat yang Maha Rahman dan Rahim yang mempunyai cinta tiada batas, yang memberikan ketenangan batin untuk semua jiwa.
Cahaya di atas cahaya Tuhan anugerahkan, cahaya yang menyinari jiwa dan jagat raya sehingga tak lagi ada kegelapan dalam kalbu.
Terangnya jiwa membuka cakrawala kita pada jendela kebesaran dan keagungan serta menghapus cara berpikir yang picik tentang hidup ini.
Terima kasih kepada para leluhur suci yang mulia, Ayahbunda, Putriku tersayang dan suami tercinta. Mereka adalah inspirasi terindah. Kita semua selalu membutuhkan dorongan atau motivasi untuk menempuh kehidupan yang penuh dengan drama. Dorongan atau motivasi inilah yang menggerakkan kita untuk selalu semangat mengejar cita-cita hingga sampai di titik akhir perjalanan. Namun, sebesar apa pun motivasi datang dari sekeliling kita, kuncinya kembali kepada diri kita sendiri. Diri kitalah penentunya. Dialah eksekutornya, penentunya. Diri memegang kekuatan dan kehebatan terbesar dalam hidup ini, bukan orang lain.
Ini adalah karyaku ketiga. Semoga dalam karya ini membawa seribu berkah buat saya pribadi dan seluruh insan yang saya banggakan. Dalam karya ini, kucoba merangkai kata sederhana yang mampu menginspirasi diri ini. Seandainya rangkaian kataku menginspirasi insan semua, rasa syukur dan terima kasihku tentunya untuk Sang Pemberi Hidup ini.
Tujuan utama manusia diciptakan adalah memberi manfaat buat dirinya dan orang lain. Sehingga, hidupku semakin bermakna jika berguna buat sesama. Tapi yang terpenting, kita mengenal diri kita, asal kita, dan pemilik utama jiwa kita. Tujuannya agar kita lebih memahami rahasia hidup di dunia ini.
Buku ini hadir tidak untuk satu agama, tetapi untuk semua golongan. Karena aku ingin menjadi mentari, aku ingin mengahangatkan bumi tanpa memandang sudut atau sisi. Karena itu, aku mohon maaf jika karyaku tidak berkenan di hati pembaca.
Banyak manusia cerdas, tetapi tak menyadari asal mula hidupnya dan proses kehidupannya yang sedang berjalan. Maka, sama saja mereka seperti robot yang bergerak cepat dan cerdas berdasarkan sistem yang dipasang, sedangkan rasa dan jiwanya mati.
Ibarat pepatah,
“Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah seribu tahun lamanya.”
Artinya, itulah pemikiran, dia sangat berharga. Dari pemikiran, kita bisa memahami ilmu, penerang hidup. Sedangkan beribadah tanpa ilmu, semua bisa sia-sia.
“Seribu langkah tak akan guna jika niat tiada tertata. Namun selangkah menjadi berkah jika niat dalam jiwa tulus penuh cinta.”
Jakarta, 1 September 2016
Dayyana Rose
Tidak ada komentar:
Posting Komentar