Sabtu, 28 November 2015

Keputusan

         Seminggu sudah ayah meninggalkan kami, rumah masih diliputi kedukaan. Rumah menjadi tanpa cahaya, semua penghuni rumah mendadak menjadi pendiam dan bisu.  Bagi kami ayah adalah segalanya, beliau adalah sosok panutan dan teladan untuk kehidupan aku dan Kak Rara. Sejak meninggalnya ayah seminggu yang lalu,  rumah ini benar - benar ikut kehilangan nyawa dan gairahnya, seakan ayah membawanya pergi bersama jasadnya.
         Sejak meninggalnya ayah kulihat ibu sangat bersedih. Beliau nyaris tak pernah keluar kamar, kami sungguh memakluminya semasa hidupnya ayah sangat mencintai ibu. Betapa kami suka iri melihat kemesraan mereka berdua, sering ayah memanjakan ibu dihadapan kami putri - putrinya, dan demikian juga ibu terhadap ayah, sungguh kami berdua merasa beruntung memiliki keluarga yang sempurna. Tak pernah kutemui pertengkaran dalam rumah kami, hanya kebahagiaan yang melingkupi keluarga kecil kami.
           Ayahku semasa hidupnya adalah ayah yang super sibuk. Sebagai seorang pejabat di Pemerintahan  menuntut ayah untuk banyak berhubungan dengan relasi kerjanya, makanya untuk urusan komunikasi ayah tak pernah ketinggalan.  Ayah selalu mengikuti perkembangan teknologi, ayah selalu memiliki handphone yang canggih, kami tak pernah protes walau ayah selalu berganti setiap ada handphone dengan seri terbaru, karena kami menganggap bahwa itu untuk menunjang karir ayah, dan yang membuat kami tak pernah protes karena pasti ayah juga membelikan untukku dan juga Kak Ra. Hanya ibu yang enggan Handphonenya ganti - ganti, beliau mengaku ingin setia kepada handphone jadul permberian ayah saat ulang tahun pernikahan peraknya, menurut ibu handphone yang ibu miliki sudah cukup untuk sarana komunikasi dengan ayah.
            Ibu masih sangat kelihatan berduka, aku dan Kak Ra sibuk untuk menghibur ibu. Kadang kami masuk ke kamar ibu dan mengajak bercanda, namun ibu hanya diam dan larut dalam kesediahan. Pernah satu sore sengaja aku membawa kejutan untuk ibu, " Taraaaa....coba tebak Noni bawa apa ,Bu ? Sambil kuperlihatkan bungkusan ditanganku, namun Ibu hanya melihat sekejap kemudian menunduk kembali, padahal sore itu aku belikan ibu martabak kesukaan beliau, sungguh kesedihanku semakin sempurna melihat ibu terus larut dalam duka.
             Sebenarnya tidak hanya aku yang sibuk mengibur Ibu, Kak Ra, juga tak pernah lelah mengibur ibu, Kak Ra yang selalu memastikan walau Ibu nyaris tidak keluar kamar, namun semua keperluan makan dan minum ibu tak pernah diabaikan. Kak Ra selalu ingin memanjakan ibu dengan masakan kesukaan beliau, itu salah satu usaha Kak Ra untuk menghibur Ibu. Ibulah yang mengajari kami putri - putrinya untuk bisa memasak.  Walau jaman sekarang apa - apa bisa dibeli dengan mudah namun sungguh aku ingat nasehat ibu suatu sore , " Non, Ra...kalian itu anak - anak perempuan, anak perempuan harus pandai memasak agar kelak kau disayang keluarga," demikian nasehat ibu mengalir lembut untuk kami berdua, kami selalu diajarkan berbagai menu masakan, hingga kami berdua menjadi cekatan dan trampil di dapur.
            Kerabat dan juga sanak saudara yang lain juga tak kalah usahanya untuk menghibur ibu, setiap sore pulang kerja pasti Tante Nani adik ibu yang paling kecil pasti menyempatkan diri untuk datang menghibur ibu, walaupun ibu hanya diam namun Tante Nani tak pernah putus asa, bagaimanapun Tante Nani bisa memaklumi mengapa Ibu sangat bersedih sepeninggal ayah.
           Sore ini hujan deras mengguyur persada, dinginya menusuk tulang. Sungguh aku khawatir dengan ibu, karena seharian beliau  tidak keluar kamar. Perlahan - lahan kuketuk pintu, tidak ada jawaban, pelan - pelan pintu kubuka ternyata pintunya tidak dikunci, kulihat ibu kaget ketika melihatku datang, dan buru - buru menyembunyikan hanphone milik ayah di bawah bantal, " ada apa Non? Kau mengangetkan Ibu," masuk tanpa mengetuk pintu, " Maaf ibu, tadi Noni sudah ketuk - ketuk pintu, namun  Ibu tidak mendengar, Noni khawatir dengan Ibu."  " Ibu baik - baik saja tak usah kau khawatirkan ibu." Perkataan Ibu tidak pas dengan raut wajah yg sangat kelihatan tegang. Sungguh aku jadi penasaran, namun demi memdengar kata ibu aku jadi tidak ingin bertanya lagi, " Non, tolong tinggalkan ibu sendiri, Ibu perlu menenagkan diri, maafkan Ibu ya sayang, sambil mengecup keningku." Kutinggalkan kamar Ibu dengan sejuta tanya dalam hati.
             Hari Minggu yang cerah, Aku dan Kak Ra sedang asik melihat acara televisi, saat tiba - tiba dikagetkan dengan suara pintu kamarnya ibu, kami berdua kaget bukan kepalang, pagi ini Ibu keluar dari kamar, dan yang mengangetkan ibu sudah berdandan cantik, lengkap dengan tas kesukaan ibu, " Ra...segera siapkan mobil, antar ibu ke Solidio, Aku dan Kak Ra saling berpandangan, ketika kembali Ibu mengejutkan kami, " Cepat Ra, Ibu diantar sekarang," . Kak Ra langsung melompat dari kursi menyambar kunci mobil diatas meja, dan langsung menuju garasi, mengeluarkan Honda Jazz miliknya.  Menghidupkan mesinya dengan tergesa - gesa , aku bergegas duduk di jok belakang mobil.
             Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Ibu diam seribu bahasa, kami berdua tak berani bertanya apapun. Perjalanan jadi terasa semakin panjang. lampu merah terasa lebih lama dari biasanya. Perjalanan dalam kebisuan ternyata tidak mengenakan, banyak tanya dalam benak kami berdua namun sungguh kami tak punya keberanian untuk bertanya kepada ibu. Kulihat wajah ibu tegang, gusar  dan tidak tenang, baru kusadari ibu semakin nampak lebih tua sepeninggal ayah.
                Setengah jam kemudian kami bertiga sampai di Solidio. Solidio adalah toko Handphone dan Assesoris paling terkenal di kotaku.Ibu bergegas turun dan kami berdua mengikutinya dari belakang, tampak ibu sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya, kemudian ketemu yang Ibu cari, ternyata handphone milik ayah, kami berdua tak sempat bertanya kepada Ibu, Ibu sudah memanggil pelayan Toko , " Mbak tolong cetak foto yang ada di galeri, dengan folder cintaku ya," dengan ramah mbak penjaga toko menjawab, " siap Ibu, sambil menerima handphone dari Ibu. " Di cetak semuanya , Bu ? , nampaknya ibu kaget dan tiba - tiba ibu meminta kembali handphone milik ayah, dan bilang kepada penjaga toko, " maaf ya mbak, Saya tidak jadi  cetak foto," , kami berdua hanya bengong, ketika suara ibu membuyarkan semuanya, Rara, Noni ayo kita pulang.
              Sesampai dirumah, Kak Ra memasukkan mobil ke dalam garasi. Aku membututi langkah ibu. Handphone ayah yang sepanjang perjalanan ada dalam gemggaman ibu, sekarang diletakkan begitu saja oleh ibu di atas bufet ruang tengah. Tanpa berkata Ibu masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Aku yang amat sangat penasaran dengan handphone ayah segera mengambilnya. Duduk di sofa ruang tengah dan mulai membukanya, Kak Ra masuk dan langsung duduk di sebelahku, " Cepat lihat foto siapa dik yang tadi akan di cetak Ibu, " kami berdua sibuk mencari galeri dan kami menemukan folder " Cintaku " dengan menahan nafas kami membuka folder tersebut, foto - foto awal memang memuat kemesraan foto Ayah dan Ibu, namun selanjutkan kami berdua dibuat kaget, di situ nampak  foto ayah dengan perempuan lain, dan yang jelas itu bukan fotonya ibu. Kami saling bertatapan, foto yang sangat mesra, kami lihat ayah memeluk pinggang  perempuan itu dari belakang dan merekan tersenyum bahagia.  Ada lagi foto yang tak kalah mesra foto dengan panoraman laut yang indah dan ayah bergandeng tangan dengan perempuan berambut sebahu itu, kami berdua saling bertatapan dan sangat tidak percaya ayah mempunyai perempuan selain ibu.
              Dengan menahan nafas kami berdua buka semua galeri foto  milik ayah. Sungguh kami banyak menemukan foto - foto ayah dengan perempuan berwajah lembut itu, kami yakin itu bukan teman biasa ayah, karena banyak sekali moment - moment mesra dari mereka berdua. Kami semakin penasaran ingin tahu siapa perempuan yang telah merebut hati ayahku, dan tiba - tiba ada perasaan sakit yang hadir dalam hati kami.  Ayah telah menghianati ibu, tak terasa butir - butir bening menyudut di mata kami berdua, sungguh kami semakin mengerti mengapa ibu tak pernah keluar kamar selama ini, pasti ibu teramat sakit karena ayah.
               Kami buka semua aplikasi yang ada di handphone ayah. Sayangnya kami tak menemukan  apapun selain foto - foto ayah dengan perempuan berambut sebahu itu, tidak ada apapun yang bisa memberikan titik terang siapa perempuan di galerinya ayah.  Semalaman kami berdua tak bisa tidur. Wajah perempuan yang berfoto mesra dengan ayah benar - benar menganggu.
               Pagi ini kami sudah bertekad akan mencari tahu siapa perempuan itu, kami siap membela ibu yang pasti saat ini hatinya hancur karena Ayah,  Kami sibuk ingin memcari strategi untuk mengungkap jati diri perempuan itu, tiba -tiba Ibu masuk ke kamar kami, " Non, Ra...bolehkah Ibu minta tolong ?,  kami menjawab dengan kompak ,"Minta tolong apa , Bu?, sambil menahan nafas ibu berkata " lupakan perempuan di galerinya  ayahmu, dan jualah handphone itu! Ibu ingin mengenang Ayahmu dalam kemanisan dan kebahagiaan, bukan prasangka dan curiga, karena ayahmu telah tiada,"
Kami berdua saling bersitatap, memcoba mengerti keputusan Ibu

(Magelang , 29 Desember 2015 )

            
          
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar