Mengingat Kelahiranmu Putriku
( firsajoning, Catatan, 10 feb 2015 )
Malam Minggu Tiga Belas Tahun yang lalu, bertepatan tanggal 9 - 2 - 2002, perutku terasa sakit sekali, kulihat ada tanda tanda aku mau melahirkan, walaupun hpl dari dokter masih tanggal tujuh belas, namun aku selalu siapa kapanpun akan melahorkan ketika kandunganku memasuki usia sembilan bulan, bergegas aku siapkan semuanya, aku tinggal berjalan ke rumah tetangga yang seorang bidan, Bu Ning namanya, " Bu perut saya sakit, kulihat ada bercak darah di celanaku, apakah saya akan segera melahirkan?'" " saya periksa aja bu," dengan cepat bu Ning memeriksa kondisiku, " Oo..iya bu, sudah pembukaan dua,katanya," aku lega karena sebentar lagi aku akan melahirkan, tidak ada yg bahagia bagi seorang ibu melebihi saat saat melahirkan.
Waktu terus merambat pelan, aku masuk ke bidan selesai sholat magrib, namun sampai jam sembilan malam belelum ada peningkatan pembukaan masih saja pembukaan dua, perutku rasanya sudah tidak karuan sakitnya tidak tertahanka, berulang kali bu bidan memeriksaku, ketika tengah malam kembali aku diperiksa, ada hal yang mengejutkan ketika bu Ning selesai memeriksa perutku, " Bu, ini kok posisi kepalanya berubah,?" aku panik, berubah bagaimana maksudnya ,bu? Aku terus bertanya, ya berubah, seharusnya posisinya dibawah, lha ini kelihatanya posisinya tidak tepat,nkelihatanya posisi kepalalanya miring, bu," sungguh aku sangat khawatir, sementara perutku terasa sangat sakit, sebentar sebentar kontraksi, sampai pukul empat dini hari aku sudah pembukaan lima, saat kembali memeriksaku bu bidan mengambil keputusan,sampai pukul enam bayiku belum mau lahir dan pembukaan tidak cepat sempurna aku harus ke rumah sakit, sambil menahan sakit tak berhenti aku memohon agar bayiku segera lahir, sampai pukul lima aku masih pembukaan lima namun kontraksi berhenti, bu bidan sangat kebingungan, akhirnya pagi itu aku di rujuk kerumah sakit, aku memilih RSI ( rumah sakit islam ) dengan pertimbangan karena dekat dan sejujurnya aku trauma dengan ruma sakit negeri karena saat melahirkan putraku yang pertama aku di jadikan praktek oleh bidan bidan, sungguh aku trauma.
Akhirnya sampai si rumah sakit pukul setengah tujuh, aku masuk pada ruang bersalin, segera seorang bidan memeriksaku, dan sungguh aku kaget melihat wajahnya, ternyata dia temanku saat SD, dengan teliti dia memeriksa sambil terus memotivasiku untuk bertahan dan bersabar, setelah selesai memeriksaku, kulihat dia menarij nafas,n" kenapa Wid, tanyaku? Bayimu sungsang ini yang dibawah tangan dan kakinya, bukan kepalanya, Ya Allah aku takut sekali, kembali Widya menenangkanku gak apa apa , sepahit pahitnya kau bisa operasi caesar , dokter Narko yang ditelpon belum juga muncul, beliau sedang tenis, karena ini hari minggu, perutku tidak kontraksi lagi, sementara air ketuban bercampur darah sudah merembas kembali, akhirnya aku di suntik pacu agar kotraksi berlangsung cepat, subgguh luar biasa sakitnya ketika di pacu, karena aku terus kontraksi tiada berhenti, pukul tujuh tepat dr Narko datang, segera memeriksa kondisiku, pembukaanku sudah nyaris sempurna, kutuban sudah hampir habis, aku bertanya " dokter apakah saya bisa melahirkan normal,? Dengan lembut pak Narko mebjawab, kalau ibu manut, inshaa Allah bisa, ibu masih muda, dan ini anak ke dua, duuh lega rasanya, apapun yg terjadi aku akan mengikuti perintah pak Narko.
Suamiku terus berada di sampingku, terus memberikan penguatan, tak lepas tanganya dari tanganku, sungguh aku merasa tidak pernah sendiri, perutku terus berkotraksi, aku terus menahan tidak mengejan kalau dr tidak meyuruh, sungguh sakit yang teramat sangat, berulang kali ku sebut nama Tuhanku, dan memeohon pertolonganya, dengan pebuh kesabaran bayiku bisa dilahirkan, presiksi kedua bidan salah semua, ternyata bayiku lahir pantannya dahulu, bukan kepala miring, dan bukan tangan atau kaki dulu, aku memuji nama Tuhanku bayikunlahir selamat walau dengan proses yang sangat melelahkan, terbayar sudah semua rasa sakit terganti dengan bahagia.
Namun sesaat setelah lahir bayiku hanya diam, suamiku yang melihat proses persalinanku mengira bayiku meninggal, karena diam saja tidak menangis, kemudian dokter menepuk nepuk pantat bayiku, baru sejenak terdengar suara tamgisnya, makin lama makin keras, aku berucap sukur, suamiku menangis dan bersujud, berterimaksih abaknya telah lahir selamat.
Satu hal yang menggembirakan anak kami perempuan, canti sekali, beratnya 3, 3 kg dan tingginya 51 cm, sungguh melihat pipinya yg cabi, rambutnya yg lebat kulinya yg putih bersih, terbayar sudah semua rasa sakitku
Hari itu kuingat tanggal 10 pebruari 2002. Pk.7. 50 Wib, di RSI, putriku kulahirkan.
Putriku tumbuh dengan cepatnya,tak terasa waktu balita dan kanak kanaknya sudah terlewati, tumbuh menjadi putri yang sholihah, cerdas dan sehat, sekarang usianya sudah tigabelas tahun, sudah kelas 7 smp, sungguh kayaknya baru kemarin aku berjuang melahirkanya,tak terasa sudah tigabelas tahun, selamat ulang tahun putri cantikku, semoga terus tumbuh menjadi gadis yg sholihah, cerdas, dan sehat, sungguh bunda bangga padamu nak, doa bunda menyertai setiap langkahmu, sukses dunia dan akherat ya nak,jadilah putri ibu yang terbaik.