1.Terimakasih Ayah
Oleh : Murti Ningsih
Ayah ini semua cerita tentangmu
Memang kau tak pernah mengandungku
Namun darahmu nyata mengalir di tubuhku
Ayah ini semua cerita tentangmu
Memsng kau tak pernah menyusuiku
Namun jelas keringatmu yang membesarkanku
Ayah ini semua cerita tentangmu
Memang kau tak selaku berada di sampingku
Namun jelas kau berjuang untuk hidupku
Ayah, kau memang bukan ibu
Namun aku tahu cintamu sama dengan cinta ibu untukku
Ayah, aku di setiap doamu, kau sebut nama anak - anakmu
Ayah, aku tahu kau begitu mengkhawatirkan kami
Walau kau tak selembut ibu
Namu kau hadir menyempurnakan kehidupanku
Terimaksih ayah, telah ada untuk kehidupanku
( firsajoning, Terimakasih Ayah...22 juli 2015 )
2. Rindu Sederhana
Oleh : Murti Ningsih
Dulu semuanya sederhana
Tak ada yang terasa rumit
Kehidupan mengalir bagai air
Negeri aman tentaram dan bahagia
Sekarang jaman semakin maju
Kehidupan sederhana di buat rumit
Pemimpin jauh dari sederhana
Sukanya hanya berfoya foya
Jaman yang semakin edan
Profokasi semakin gencar
Korupsi sudah tak malu lagi
Masuk bui menjadi tidak malu lagi
Beginilah negeriku saat ini
Sederhana sudah tidak ada
Semua menjadi jauh dari tertata
Semua berlomba ingin menikmati dunia
Kemanakah lagi harus kucari
Sisa - sisa kemerdekaan ini
Bila janji tinggalah janji
akhirnya rakyatlah yang tersakiti
Kami rindu hidup sederhana
Sederhana namun penuh cinta
Sederhana namun kaya khasanah budaya
Sederhana yang membawa bahagia
( firsajoning, Rindu Sederhana....22 juli 2015 )
3. Masihkah Ada yang tersisa
Oleh Murti Ningsih
Masih adakah yang tersisa
Dari sepenggal kenangan bersama senja
Saat dua insan yang saling mencinta
Memilih diam seribu bahasa
Masih adakah yang tersisa
Ketika cinta berbuah air mata
Kesedihan menjelma sempurna
Dari jiwa yang tercabik nestapa
Masih adakah yang tersisa
Dari penggalan kisah kita
Kisah yang tak ada akhirnya
Walau cinta sejatinya masih tetap ada
Masih adakah yang tersisa
Dari semua masa lalu kita
Yang sengaja ditulis dalam catatan hidup kita
Sampai akhir menutup mata
( firsajoning, Masih Adakah Yang Tersisa...21 juli 2015 )
4. Pulanglah Nak..
Oleh : Murti Ningsih
Pulanglah nak..
Sudah bertahun - tahun kau tak pulang kampung
Tidakkah kau rindu pada kampung halamanmu
Tidakkah kau rindu pada ayah dan ibumu
Pulanglah nak..
Apakah waktu begitu kejam kepadamu
Hingga tak memberimu kesempatan untuk menengokku
Lihatlah di kampung halamanmu
Kampung yang telah membesarkanmu
Semuanya masih sama
Ayah ibumu ini semakin renta
Sungguh kami sangat rindu saat - saat kau masih kecil
Bermain di sawah dengan ceria
Bermain layang - layang hingga petang menjelang
Pulanglah nak...
Jangan kau terlalu asik mengerjar harta dunia
Tidak rindukah kau pada kami?
Sungguh kami sangat merindukanmu
Pulanglah nak..
Ayah ibu menunggumu
( firsajoning, Pulanglah Nak...12 Juni 2015 )
5. Bapak
Oleh : Murti Ningsih
Aku memanggilmu Bapak
Pria renta yang kini sudah tak berdaya
Pria yang merelakan masa mudanya untuk keluarganya
Pria yang menghabiskan usianya untuk anak istrinya
Aku memanggilmu Bapak
Pria yang memberikan kehormatan untuk anak - anaknya
Walau tak banyak bicara, nanun banyak cinta di dalamnya
Pria yang jarang tersenyum nanun lembut hatinya
Pria yang membesarkanku dengan penuh cinta
Bahkan wajahku sangat mirip denganya
Aku memanggilmu Bapak
Pria renya yang kini sudah tak berdaya
Namun jangan cemas wahai Bapakku tercinta
Kami semua siap menjagamu dengan segenap rasa
Kau tidak akan merasa merana
Karena kami memberimu cinta
Seperti kau memberi kami kehidupan yang nyata
( firsajoning, Bapak...3 juli 2015
Biodata Penulis
Ibu dengan dua orang putra ini, keseharianya adalah pengajar di SMK N 2 Magelang, kegemaranya menulis dituangkan blog pribadinya, ribuan puisinya bisa dinikmati di firsajoning.blogspot.com dan fb Murti Ningsih, karya - karyanya tercatat di 18 buku antologi baik antologi sendiri maupun antologi bersama, menulis baginya adalah hobi yang mengasikan dan menghasilkan, menulislah agar dirimu mulia, itulah motto hidupnya.